Sebuah Manifesto Menolak Kant

Sebuah perhelatan akbar seni rupa berlangsung di Galeri Nasional. Menyambut Hari Kebangkitan Nasional, 350 perupa memamerkan karya mereka dan menandatangani persetujuan tentang pengertian seni yang berbeda dengan pengertian umum seni di Barat sejak abad ke-18. Seperti inikah wajah dan peta terbaru seni rupa kontemporer Indonesia?

PAMERAN yang berlangsung di Galeri Nasional itu skalanya begitu besar. Hampir seluruh seniman kontemporer kita ikut serta. Semuanya berjumlah 350 perupa. Demikian riuh. Demikian banyak yang bisa dilihat. Demikian beragam. Sampai-sampai seseorang berseloroh, "Seluruh problem yang ada di Indonesia ada dalam pameran ini."

Memang dari kacamata tema, hajatan ini begitu luas. Tapi pengunjung yang rajin mengikuti pameran, lepas dari persoalan konseptual tentang apakah konsep "seni modern" di Barat dan di sini berbeda atau tidak, bisa menyaksikan ternyata banyak seiman tidak menghadirkan gagasan-gagasan terbaru mereka. Di muka galeri, misalnya, terpacak patung larya Nyoman Nuarta. Sesosok manusia, yang seolah terkibas diterpa angin, di telapak tangannya ada seekor burung. Karya itu masih seperti karya Nyoman pada umumnya.

Tapi, begitu masuk teras, kita melihat Hanafi menyodorkan sebuah instalasi berberntuk gergaji raksasa yang menancap di kayu. Cukup menggairahkan, karena sebelumnya Hanafi tak pernah membuat karya seperti itu. "Ini lambang kebangsaan yang terkunci," katanya. Tak jauh dari karya Hanafi, dipasang No Fear, karya lama Awan Simatupang yang cukup kuat. Seonggok timbunan kayu, di atasnya ada semacam kudung seng dengan lubang mata membentuk seraut wajah.

 

 
a
@2013 pintorsirait.com