140 Seniman Asia Pameran di Bandung

PAMERAN Internasional Seni Rupa Asia, termasuk pameran ke-22 yang digelar di Bandung, tidak semata-mata ditujukan untuk kepentingan estetis. Pameran itu juga ditujukan untuk kepentingan mempererat hubungan antarnegara peserta lewat kesenian, yang berdasar pada nilai-nilai kultural, sosial, dan kemanusiaan.

Ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia, Miranda Goeltom, mengatakan hal itu pada acara pembukaan Pameran Internasional Seni Rupa Asia ke-22, di Selasar Sunaryo Art Space, Jln. Dago Pakar Timur 100, Bandung, Jumat (23/11).

Pameran yang digelar 23 November - 23 Desember 2007 tersebut, diikuti 140 seniman dari 10 negara di kawasan Asia. Ke-10 negara tersebut adalah Indonesia, Cina, Jepang, Hong Kong, Makau, Filipina, Malaysia, Korea, Vietnam, dan Singapore.

"Mempererat hubungan antarbangsa tidak hanya dilakukan lewat politik dan ekonomi saja, tetapi juga lewat seni dan budaya. Mengapa? Karena masing-masing bangsa bisa mempelajari kekayaan nilai-nilai kultural yang ditampilkan para seniman lewat karya yang dikreasinya. Soekarno, Presiden RI pertama, sangat menyadari hal itu. Untuk itu pameran semacam ini sudah selayaknya didukung berbagai pihak, termasuk oleh pemerintah," ujar Miranda Goeltom.

Acara pembukaan juga dihadiri Kepala Disbudpar Jabar, H.I. Budhyana, Sekda kota Bandung Edi Siswandi, perupa Sunaryo mewakili Selasar Sunaryo Arts Space, dan Ketua Penyelenggara Pameran Internasional Seni Rupa Asia ke-22, Prof. Dr. Setiawan Sabana.

Budhyana mengatakan, pameran semacam ini pada satu sisi mempunyai nilai gratis bagi promosi dunia pariwisata di Bandung khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. "Lepas dari itu, karya-karya yang ditampilkan para perupa dari 10 hegara di kawasan Asia ini bisa dijadikan pembelajaran bagi siapa pun yang ingin mendalami apa dan bagaimana perkembangan dan pertumbuhan seni rupa di kawasan Asia," ujarnya.

Acara pembukaan ditandai pertunjukkan musik perkusi yang dibawakan anak-anak dari Jendela Ide, dan pemecahan 10 kendi yang dililit oleh ketua delegasi masing-masing negara, yakni Setiawan Sabana (Indonesia), Choong K.K (Malaysia), Lee Na Kyung (Korea), Norita Udagawa (Jepang), Eddie Lui (Hong Kong), Zua Zhengyao (Cina), Nguyen Tram Cuong (Vietnam), Chan Choy H (Singapore), dan Ramon Orlina (Filipina).

Pematung I Nyoman Nuarta mengatakan, apa yang dikreasi para perupa Indonesia tidak kalah dengan kreasi para pelukis dari negara-negara lainnya.

Aya yang dikatakan Nyoman memang tidak salah. Karya rupa yang dikreasi para perupa dari Indonesia menunjukkan kelasnya tersendiri.

"Sesungguhnya tidak bisa dibanding-bandingkan, karena masing-masing perupa dalam berkarya seni mempunyai gaya dan ukuran estetika tersendiri. Misalnya, apa mungkin kita bisa membandingkan keindahan kaligrafi Cina yang dibuat dengan bahan dasar tinta hitam dengan kaligrafi Arab yang dibikn berwarna oleh pelukis Indonesia. Keduanya tidak bisa dibandingkan, karena masing-masing estetika di dalam karya tersebut dibuat dengan bahan dasar yang berbeda," ujar Nadila, penikmat seni rupa yang mengaku datang dari Jakarta.

Karya Seni rupa yang dipamerkan tidak hanya karya lukis dan grafis saja, tetapi juga patung dan instalasi. Perupa Isa Perkasa misalnya, menampilkan karya instalasi dengan objek sebuah katel di atas sebuah kompor yang dicitrakan tengah menyala. Di atas katel tersebut ada peta Asia dan Indonesia.

Karya instalasi yang diberi judul "Mimpi di Negeri Masing-masing" itu menarik perhatian, karena mengandung muatan politis yang cukup tinggi. Karya tersebut menggambarkan kekayaan alam yang dianggap sebagai sumber eksploitasi, tanpa memperhitungkan apa dan bagaimana penataan lingkungan hidup di masa mendatang.

Karya Agus Suwage pun menarik. Ia menyuguhkan sebuah replika kerangka manusia utuh yang tengah berendam di sebuah ember sarat dengan air putih. Karyanya ini diberi judul "Luxury Crime" yang mengandung pesan moral cukup tinggi, bahwa sebuah bangsa akan rusak bila kriminalitas terjadi dalam berbagai bidang kehidupan dan tidak bisa dihentikan. Tentu saja sejumlah karya lainnya menarik pula untuk diapresiasi.

 

 

 
a
@2013 pintorsirait.com