Seni, Seni Rupa, "Art"?

"Tema 'Manifesto' ini adalah pernyataan bersama lebih dari 350 peserta pameran yang mengukuhkan pengertian 'seni' dan 'seni rupa'." Demikian potongan catatan pada pengantar kuratorial dalam katalog sementara pameran "Manifesto" di Galeri Nasional Jakarta, 21 Mei-15 Juni 2008.

Jim Supangkat, salah satu dari empat kurator pameran, mempertegas, pehelatan besar ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa praktik "seni rupa" di Indonesia berbeda dengan "art" yang berkembang di Barat. Di Barat, nilai art terletak pada karya, bukan pada orangnya. Pengertian itu merujuk pada filsafat estetika Immanuel Kant abad ke-19.

"Di Indonesia, seni menyatu dengan senimannya sebagai naluri, kepekaan, atau rasa yang merefleksikan kearifan, cara berpikir, dan moralitas," kata Jim si sela-sela diskusi "Menimbang Kembali Seni" di Galeri Nasional, Kamis (22/5) siang lalu.

Gagasan itu lantas dikemas sebagai undangan untuk para seniman di Indonesia. Setiap seniman diminta untuk menentukan dan menyerahkan karyanya sendiri, sesuai dengan pemahaman yang dibaca dalam pengantar kurator dalam undangan itu. Kurator tidak menentukan tema khusus, juga tidak melakukan seleksi atau kualifikasi karya.

Setelah semua foto karya terkirim, barulah kurator mengkaji dan memilah-milah karya dalam empat kelompok tema, Ada kelompok bertema "Seni dan Rasa Keindahan"; "Seni dan Moral"; "Seni dan Narasi"; "Eksistensi: Esoterik dan Transendental". Setiap kelompok karya dalam satu tema dikumpulkan dalam ruangan yang berbeda.

Sebenarnya gagasan soal pengertian art, seni rupa, dan kagunan sudah lama dipikirkan Jim, juga pernah dituangkan dalam beberapa tulisan. Salah satunya dalam pengantar buku kumpulan tulisan Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa, yang diterbitkan Kalam tahun 2001. Tampaknya, pameran besar ini diarahkan untuk membuktikan pemikiran tokoh Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) tahun 1970-an itu.

Apakah gagasan kurator itu cukup tergambar dalam pameran "Manifesto"? Justru itu persoalannya. Melihat karya-karya yang dipajang, tampaknya tidak banyak seniman yang sungguh-sungguh menyimak gagasan kuratorial atau berkarya berdasarkan gagasan tersebut. Buktinya, banyak seniman mengaku, menyerahkan karya yang dibuat sebagaimana biasa.

Dalam ruang pamer, kita juga bisa mengamati karya-karya yang dibuat beberapa tahun sebelum 2008 ini, bahkan pernah sudah dipamerkan di tempat lain. Jadi, agaknya ada jarak antara keinginan kurator dan karya seniman yang ditampilkan dalam pameran ini.

"Ini masih langkah awal. Setidaknya, kita mesti berusaha menemukan platform sebagai pijakan diskusi tentang seni rupa Indonesia," kata Jim.

Lantas, bagaimana suara seniman?

Seorang seniman yang tinggal di Bali, misalnya, mengirimkan lukisan lama yang dibuat tahun 2003. Dia mengaku membaca pengantar kuratorial dalam undangan, tetapi tidak mengisi blangko kosong yang disediakan untuk diisi seniman.

"Saya menangkap, Jim masih terus menraba-raba untuk mencari fenomena seni rupa Indonesia itu seperti apa? Tapi, saya tidak mengisi blangko karena saya sendiri masih tanda tanya, apa sih karakter seni rupa Indonesia itu? Saya tidak mau terjebak," katanya.

 

 
a
@2013 pintorsirait.com